PROLOG
Hujan mengguyur
kota Bandung di sore itu... Aku melihatnya... kupu-kupu biru yang tetap terbang
menerjang badai hujan. Ku eratkan kedua ujung kakiku dan melingkarkan tanganku
seraya memeluk diriku sendiri. Di hawa yang sedingin ini dia masih tetap
menelusuri jalannya.
Cahayanya
berkilau. Indah.... Cahaya itu takkan padam. Tidak seperti diriku. Hanya duduk
di bangku dan menaruh beberapa buku serta alat tulis di mejaku. Datang membawa
buku dan pulang membawa pilu. Begitulah rutinitasku.
"Cileunyi!
Cileunyi! Cileunyi!", terdengar suara tukang kenek beserta asap knalpot.
Sebuah bis berhenti tepat di depan diriku, tapi aku tetap menyayukan mataku dan
berwajah polos. Satu menit kemudian bis itu pergi meninggalkan diriku yang tak
bergerak se-senti pun. Entah apa yang ada di pikiranku waktu itu, aku hanya
ingin melihat kupu-kupu itu lagi tuk sementara itu. Aku hanya... ingin melihat
kilauan itu sekali lagi.
Ah, rupanya dia
sudah pergi. Cepat sekali untuk hewan kecil yang sedang menerjang badai. Tidak,
mungkin akulah yang selalu melihat ke belakang. Ya ampun, seharusnya aku naik
bis tadi saja. Cling... secercah cahaya biru itu kembali muncul.
"Ah, rupanya
kau menungguku", aku berbicara pada kupu-kupu itu layaknya orang biasa,
tapi mungkin orang yang melewatiku akan berkata aku ini gila. Kupu-kupu itu
tetap terbang berirama memutari angin di depan wajahku seakan siap mendengar
kisah ceritaku.
"Kau tau? Jika
kau belum bisa membuktikan masa depan yang cerah untukmu, kau hanyalah boneka
yang dikendalikan oleh orang tuamu", Aku tersenyum kecil sembari melihat
tariannya.
"Memberikan
kesenanganmu kepada orang lain itu sangat menyakitkan. Layaknya Ster yang
terpaksa dimakan oleh lawan, satu-satunya cara mengembalikkannya adalah dengan
terus maju sampai ke benteng lawan dan dipromosikan", aku perlahan duduk
dan tetap memandangi kupu-kupu itu.
"Lalu? Sebagai
apakah kedudukanmu? Apa kau pion yang terus maju sampai ke benteng musuh? Atau
kau pion yang maju tanpa arah?", sebuah kata-kata bergema di telingaku.
Aku spontan terkejut. Hanya ada aku dan kupu-kupu itu di sini. "Apakah kau
yang berbicara...?", aku menanyakan pertanyaan yang amat aneh kepada
hewan, apa aku sudah sengklek?.............. Dan selanjutnya tak ada jawaban
apa-apa lagi darinya, sepertinya memang aku sudah gila, sepertinya aku hanya
salah dengar.
"Aku.... aku tak tau. Ada hari dimana
aku merasa sendirian di dunia ini, dan ada hari pula dimana aku tak bisa
menghentikan tangisku. Aku tak tau apa yang kuinginkan, dan aku pun tak mau tau
apa yang harus kulakukan. Aku... hanyalah utusan pengamat dari Tuhan,
benarkan?", tanpa aku sadari, aku tetap menjawab pertanyaan itu. Aku terus
menatap ke arah kupu-kupu itu seakan berharap sesuatu akan terjadi. Tiba-tiba
sekali cahayanya semakin bersinar dan bersinar lagi hingga menyilaukan
mataku....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar