Kamis, 11 Februari 2016

Pysche Prolog

PROLOG
    
    Hujan mengguyur kota Bandung di sore itu... Aku melihatnya... kupu-kupu biru yang tetap terbang menerjang badai hujan. Ku eratkan kedua ujung kakiku dan melingkarkan tanganku seraya memeluk diriku sendiri. Di hawa yang sedingin ini dia masih tetap menelusuri jalannya.
    Cahayanya berkilau. Indah.... Cahaya itu takkan padam. Tidak seperti diriku. Hanya duduk di bangku dan menaruh beberapa buku serta alat tulis di mejaku. Datang membawa buku dan pulang membawa pilu. Begitulah rutinitasku.
   "Cileunyi! Cileunyi! Cileunyi!", terdengar suara tukang kenek beserta asap knalpot. Sebuah bis berhenti tepat di depan diriku, tapi aku tetap menyayukan mataku dan berwajah polos. Satu menit kemudian bis itu pergi meninggalkan diriku yang tak bergerak se-senti pun. Entah apa yang ada di pikiranku waktu itu, aku hanya ingin melihat kupu-kupu itu lagi tuk sementara itu. Aku hanya... ingin melihat kilauan itu sekali lagi.
   Ah, rupanya dia sudah pergi. Cepat sekali untuk hewan kecil yang sedang menerjang badai. Tidak, mungkin akulah yang selalu melihat ke belakang. Ya ampun, seharusnya aku naik bis tadi saja. Cling... secercah cahaya biru itu kembali muncul.
   "Ah, rupanya kau menungguku", aku berbicara pada kupu-kupu itu layaknya orang biasa, tapi mungkin orang yang melewatiku akan berkata aku ini gila. Kupu-kupu itu tetap terbang berirama memutari angin di depan wajahku seakan siap mendengar kisah ceritaku.
   "Kau tau? Jika kau belum bisa membuktikan masa depan yang cerah untukmu, kau hanyalah boneka yang dikendalikan oleh orang tuamu", Aku tersenyum kecil sembari melihat tariannya.
   "Memberikan kesenanganmu kepada orang lain itu sangat menyakitkan. Layaknya Ster yang terpaksa dimakan oleh lawan, satu-satunya cara mengembalikkannya adalah dengan terus maju sampai ke benteng lawan dan dipromosikan", aku perlahan duduk dan tetap memandangi kupu-kupu itu.
   "Lalu? Sebagai apakah kedudukanmu? Apa kau pion yang terus maju sampai ke benteng musuh? Atau kau pion yang maju tanpa arah?", sebuah kata-kata bergema di telingaku. Aku spontan terkejut. Hanya ada aku dan kupu-kupu itu di sini. "Apakah kau yang berbicara...?", aku menanyakan pertanyaan yang amat aneh kepada hewan, apa aku sudah sengklek?.............. Dan selanjutnya tak ada jawaban apa-apa lagi darinya, sepertinya memang aku sudah gila, sepertinya aku hanya salah dengar.
   "Aku.... aku tak tau. Ada hari dimana aku merasa sendirian di dunia ini, dan ada hari pula dimana aku tak bisa menghentikan tangisku. Aku tak tau apa yang kuinginkan, dan aku pun tak mau tau apa yang harus kulakukan. Aku... hanyalah utusan pengamat dari Tuhan, benarkan?", tanpa aku sadari, aku tetap menjawab pertanyaan itu. Aku terus menatap ke arah kupu-kupu itu seakan berharap sesuatu akan terjadi. Tiba-tiba sekali cahayanya semakin bersinar dan bersinar lagi hingga menyilaukan mataku....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar